Batasan Berinteraksi dengan Lawan Jenis

Banyak masyarakat kita saat ini yang belum memahami batasan-batasan antara laki-laki dan perempuan. Banyak sekali pemuda-pemuda kita saat ini yang ber-ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan), ber-khalwat (berdua-duan dengan yang bukan mahramnya). Bahkan ikhtilat di jadikan budaya. Apabila ada seorang perempuan yang tidak bergaul dengan laki-laki malah dikatakan judes lah, cuek lah, nggak mau bergaul dengan laki-laki lah, sombong lah dan segala macam. Padahal tujuan perempuan tersebut adalah untuk menjaga diri saja. Padahal sudah jelas firman Allah SWT mengenai ikhtilat.

Berusaha agar tidak ikhtilath dengan gadis yang bisa menyebabkan fitnah.

Dari Abu Sa’id bin Musayyib’d al-Khudri radliyallah ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الدُّنيا حلوةٌ خضرةٌ، وإنَّ الله تعالى مستخْلِفكم فيها، فينظُر كيف تعملون، اتَّقوا الدُّنيا واتَّقوا النِّساء

“Sesungguhnya dunia itu manis dan indah. Allah menjadikan kalian berkuasa atasnya, untuk melihat apa yang kalian perbuat. Bertakwalah terhadap dunia dan wanita.” (HR. Muslim).

Dalam Shahihain, dari Usamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ما تركتُ بعدي فتنةً أضرَّ على الرِّجال من النِّساء

“Tidak lah aku tinggalkan suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.”

Nah adakah nggak sih batasan-batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan? Tentu ada.

Batasan antara laki-laki dan perempuan itu terbagi menjadi 5 lingkup, yaitu:

  1. Pendidikan
  2. kesehatan
  3. transportasi
  4.  jual beli
  5. tolong menolong.

Di dalam dunia pendidikan kita boleh berbicara, berdiskusi ,kumpul bersama lawan jenis. Kita boleh janjian dengan lawan jenis untuk mendiskusikan sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan. Kita boleh berbicara dan berdiskusi tentang tugas-tugas bersama lawan jenis. Asalkan selama proses diskusi tidak keluar dari bahasan terkait pendidikan. Ingat batasannya, jangan sampai menimbulkan fitnah.

Dalam dunia kesehatan misalnya kita sakit dan doternya adalah lawan jenis yang bukan mahram kita, nah itu diperbolehkan dalam islam. Sama halnya dengan bidang transportasi, jual beli dan toloong menolong. Tapi jika kita bisa mengusahkan untuk tidak berikhtilat ataupun berkhalwat ,maka boleh-boleh saja.

Nah apa yang kita lakukan agar terhindar dari finah tersebut? Yaitu dengan :

Menundukan pandangan (Ghadlul Bashar)  berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nuur: 30)

Berhijab (menutup aurat)

  1. Al-A’raf: 26, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
  2. An-Nuur: 31, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”