JIM, Jujur Itu Menenangkan

Bismillah, nggak semua orang yang bernama Jim anak ke 5, tapi huruf jim dalam hijaiyah, adalah huruf keLIMA.

Yak. Kalau boleh jujur, ini tulisan bukan tentang huruf jim, tapi tentang waqaf jaiz yang bertanda layaknya huruf jim.

Kali ini kita berada dipenghujung tahun 2017, dan sudah melewati tak kurang 287 hari yang Allah karuniakan kepada kita tanpa spasi (read: koma, mati suri, dsj).
Bagi yang pernah tidak jujur, maka hitung sendiri berapa kali siklus ketidakjujuran itu terjadi ditahun ini.

Contoh sederhana ketika ditanya oleh dosen pura-pura tidak tahu padahal sangat paham dan mendorong teman lainnya untuk menjawab (nahloh), meninggalkan amanah karena alasan yang dibuat-buat, bertanya jawaban saat ujian/menyontek, bilang uang habis ke ortu padahal masih ada, dan lain sebagainya.

Seperti waqaf jaiz, karakter dalam diri kita sebenarnya punya pilihan untuk disambung atau berhenti. Semua balik lagi ke sikap kita menghadapi keadaan, apakah mempertahankan sikap yang memang benar atau berhenti bersikap benar (na’udzubillah). Kita yang tentukan.

Pun ketika menemukan teman yang mendukung untuk berhenti atau lanjut dalam beberapa “sikon” di hidup kita, kumpulan karakter dan sikap tersebut seperti sifat waqaf jaiz, yang memang boleh dipilih, tidak semuanya harus diiyakan atau ditolak, kitalah yang menentukan.

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (At-Taghābun : 4)

Dan terberkatilah hati yang masih terpaut dengan Al-Qur’an, karena setidaknya apa yang Allah berikan diterimanya dengan hati lapang.

Boleh jadi saat kita berbohong terasa menyenangkan, tapi apakah bisa menjamin hati tenang?
Kalau boleh jujur, pasti semua orang senang akan kejujuran karena jujur itu menenangkan.

By : Yuni Kumalasari