Perjalanan Agung Bernama Isra’ & Mi’raj

Tepat tanggal 27 Rajab beberapa abad lalu, Rasulullah saw, insan termulia, mendapat ‘undangan’ dari Allah swt untuk pergi ke sidratul muntaha. Sebuah tempat yang paling tinggi, yang bahkan tidak mampu ditembus oleh malaikat Jibril. Di sanalah Rasulullah saw. secara langsung melihat Tuhannya, Allah swt dan menerima perintah sholat lima waktu. Perjalanan ini sekaligus menjadi bukti mukjizat nabi Muhammad saw yang berbeda dari nabi-nabi yang lainnya seperti Nabi Musa as. Ketika ingin berbicara dengan Allah swt, masih dibatasi dengan tabir, yakni gunung. Sementara beliau, Rosulullah saw. secara langsung dan tanpa tabir, dihadapkan kepada Robbul ‘alamin.

Firman Allah swt dalam Q.S Al-Israa’ ayat 1 :

QS Al-Israa' ayat 1

Artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Pertemuan langsung Nabi Muhammad saw dengan Dzat yang dicintai beliau adalah sebuah pemberian dari Allah swt yang belum pernah diberikan-Nya pada siapapun dan bermaksud menghibur Nabi Muhammad saw yang saat itu mengalami tahun kesedihan dengan wafatnya Sayyidah Khodijah al-Kubro, istri beliau dan Abu Tholib, paman yang selalu melindungi dan membela beliau. Meninggalnya orang-orang yang beliau cintai dan selalu mendukung beliau dalam berdakwah, menjadi sebuah pukulan besar, karena siapa lagi? Nabi Muhammad saw saja sejak lahir sudah yatim, sebelum baligh ibunya meninggal, kemudian ia diasuh oleh kakeknya, lalu pamannya. Dalam berdakwah, beliau tak jarang dilempari batu, dan di caci maki. Banyak kaum yang menolak dakwah beliau bahkan mengusir beliau dari kota mereka. Kisah-kisah ini yang menyiratkan bahwa kehidupan beliau saw lebih banyak duka daripada sukanya.

Namun dibalik semua cobaan itu, Allah berniat memberikan derajat yang setinggi-tingginya bagi beliau saw. Salah satunya melalui perjalanan ini. Kembali ke cerita Isra’, Nabi Muhammad saw. setelah dinaikkan Buroq hingga di Masjidil Aqsa, beliau diminta mengimami para nabi dan rosul yang telah berkumpul disana. Kemudian dengan tawadhu’nya beliau berkata “Aku tidak pantas mengimami mereka karena mereka adalah para leluhurku.” Dan malaikat menjawab “Tapi, hanya engkaulah yang bisa Yaa Rosulullah”. Sehingga beliau akhirnya mengimami sholat.

Setelah itu, nabi Muhammad saw diperjalankan menuju sidratul muntaha bersama Malaikat Jibril melalui langit-langit. Di setiap langit, beliau saw bertemu dengan nabi-nabi seperti nabi Adam, Idris, Musa, dan Ibrahim. Selain itu, beliau diperlihatkan pula bermacam-macam kondisi umatnya di akhir zaman.

Suatu ketika di tengah perjalanan, beliau melihat ada seorang manusia yang memakan daging busuk, padahal ada daging yang segar. Rasulullah saw bertanya “apa itu Yaa Jibril?” “Itu adalah perumpamaan orang yang berzina, Yaa Rasulullah” Kemudian ada lagi seseorang yang memukul-mukul kepalanya sendiri sampai hancur. Jika kepalanya utuh, lalu dipukulnya lagi sampai hancur. Rasulullah bertanya “Siapa itu Yaa Jibril?” “Itu adalah perumpamaan umatmu yang mengakhirkan solatnya sampai akhir waktu sholat.” Selain itu, tampak ada seorang yang menanam, lalu ia menuai dan tidak pernah habis, kemudian Rasulullah saw bertanya lagi, dan malaikat Jibril menjawab “Itu adalah gambaran umatmu yang suka beramal saleh, utamanya yang suka bersedekah.”

Demikian diantara gambaran yang beliau lihat hingga akhirnya setelah beliau saw bersama malaikat Jibril melewati lapisan-lapisan langit dan hendak sampai ke sidratul muntaha, malaikat Jibril as berkata “Yaa Rosulullah, sudah cukup aku mengantarmu sampai di sini. Aku tidak mampu menemanimu lagi.” “Wahai Sahabatku, selama perjalanan ini engkau telah menemani aku. Bagaimana bisa engkau meninggalkan aku sendirian?” ucap Rasulullah. Maka malaikat Jibril mencoba maju selangkah, dan sekejap malaikat Jibril merasa terbakar. “Maaf Yaa Rosulullah, hanya sampai di sini aku bisa menemanimu. Jika engkau telah menghadap dan bertemu dengan Allah, sampaikanlah salam penghormatan.” ucap malaikat Jibril.

Berangkatlah Rasulullah saw menemui sang Khaliq dan beliau mengucapkan,
“Attahiyyatul mubarokatush sholawatuth thoyyibatu lillah”
Kemudian salam penghormatan itu dibalas oleh Allah :
“Assalamu’alaika ayyuhannabiyyu wa rohmatullahi wa barokatuh”
“Assamu’alaina wa ‘ala ‘ibadillahish sholihin” jawab Rosulullah
Dalam ungkapan tersebut, mari kita lihat ketika Allah swt berkata “Assalamu’alaika” kepada Nabi Muhammad saw, maka nabi tidak cukup puas dengan limpahan rahmat yang Allah berikan untuk beliau. Nabi Muhammad masih mengingat ummatnya, sehingga menjawab “Keselamatan bagi kami dan bagi hamba Allah yang soleh.”

Betapa beliau menyayangi umatnya hingga diceritakan bahwa ketika berhadapan dengan Allah, beliau saw bersujud dengan sujud yang sangat panjang, sangat lama hingga Allah berkata “Bangunlah wahai Nabi Allah, apa yang kamu minta? Sesungguhnya Aku akan mengabulkan apa yang kamu minta” maka Nabi pun bangkit dari sujudnya dan berkata “Yaa Allah, aku hanya ingin tidak ada satu pun dari umatku yang merasakan siksa api neraka”. Subhanallah..

Lihat betapa sayangnya beliau kepada kita hingga tidak tega ada ummatnya yang merasakan siksa neraka. Ini juga menggambarkan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj juga merupakan momen perjuangan Nabi Muhammad untuk memintakan syafaat bagi ummatnya sehingga ini menjadi momen yang perlu untuk diingat.

Bicara momen Isra’ Mi’raj sebenarnya banyak sekali cerita yang belum tersampaikan, tentang bagaimana beliau menerima perintah solat lima waktu, dan sebagainya. Mungkin akan dilanjut sesi berikutnya yaaa….

Sumber : Sirah Nabawiyah Ibnu Hasyim, KH Abdurrochim bin Achmad Syadzily, Habib Ali Haddad bin Idrus Al-Habsyi.