Pengumuman sayembara kisah inspiratif

Segala puji hanya bagi Allah SWT, atas nikmat islam, dan nikmat iman sehingga diri ini selalu optimis bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah dari Mu, dan segala hal itu ada hikmah yang bisa kita ambil untuk hari esok yang lebih baik..

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

Jazakumullahu khoiron katsiron kepada saudariku, atas kisah-kisah yang telah masuk,

dan Barokallahu fii kum kepada Saudariku
1. Ria Putri Lestari dengan kisahnya “Puzzle Surga”

2. Fitria Dwi N dengan kisahnya “Jilbab Telah Mengubah Hidupku”

———————————————————————————————————————————————————–

Puzzle Surga

Oleh: Ria Putri Lestari

Bismillah, dengan menyebut nama-Mu Allah aku hidup, dan dengan izin-Mu segala sesuatu itu bisa terjadi. Lalu siapa aku? Itu tidak penting. Yang terpenting adalah kalian mengerti akan arti suatu keputusan, keberanian serta keajaiban dari kisahku.

Aku hidup dari keluarga yang sederhana, mempunyai seorang ayah dan ibu terbaik di muka bumi ini, serta adik semata wayang yang amat kusayangi. Sejak kecil aku selalu berharap, dan dari harapan inilah perjalanan hidupku bermula. Berharap untuk mendapatkan yang terbaik dalam hal apapun.

Aku bukan berasal dari keluarga yang fanatik terhadap agama, mungkin bisa dibilang tren muslim KTP, karena dari kecil aku tidak mengenal akan kewajibanku sebagai penganut agama mayoritas di Indonesia ini. Malah aku kira semua penduduk di dunia memiliki agama yang sama denganku, hanya “warisan” sejak lahir. Ayah dan ibu pun hanya mengajarkan kepadaku tentang adanya Allah sebagai pencipta. Tapi apa artinya untukku saat itu, masih tidak mengerti.

Aku memang dilahirkan di pulau Jawa, tepatnya di sebuah desa di area Jombang. Saat aku berusia 8 bulan, ayah dan ibu memboyongku ke tempat rantaunya, sebuah pulau yang akan menjadi bagian puzzle kehidupanku, Bali. Sejak Taman Kanak-Kanak hingga bangku Sekolah Dasar, sejujurnya aku belum pernah mengenal apa itu shalat. Mungkin menurut orang tuaku saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerjakan shalat, walaupun mereka juga terbilang jarang untuk melakukannya. Ayahku rutin mengikuti shalat Jumat tiap pekan, tapi aku tidak mengerti kenapa beliau  jarang terlihat untuk mengerjakan shalat fardhu 5 waktu padahal dulu ibuku pernah bercerita bahwa ayah dulunya (sewaktu masih tinggal dengan kelurganya) adalah seorang guru ngaji. Dari situlah ibu yang awam Islam ingin sekali agar ayah dapat benar-benar menjadi seorang imam yang baik untuk diri dan anak-anaknya. Kala itu, ibu tidak bisa mengaji dan shalat, sehingga beliau selalu meminta ayah untuk mengajarinya dengan sabar dan perlahan. Namun seiring waktu dan banyaknya tuntutan pekerjaan, ayah tidak lagi bisa optimal mengajari ibu.

Dulu saat duduk di bangku Sekolah Dasar, aku sempat mengenyam pendidikan TPQ ( Taman Pendidikan Qur’an) di tempat aku tinggal. Sayangnya saat mengaji aku sama sekali tidak beralih ke Qur’an penuh, dan rasanya begitu lama mencicipi Iqra’ serta Juz Amma. Ya, ngaji pun dibatasi tiap pertemuan. Selembar dan selembar. Jadi, murid-murid yang Khatam Qur’an pun tidak terlalu banyak. Kehidupanku mengalir biasa saja. Bahagia? Iya. Tapi ada sesuatu yang hilang, aku tidak pernah tau apa itu.

­ ­ ­————– – – – ————-

Ramadhan 2005, dunia geger dengan Bom Bali yang kedua. Pekerjaan ayah sebagai wiraswasta yang bergantung pada sektor pariwisata, mangalami penurunan budget membabi buta, apalagi saat itu ada warning dari negara-negara lain yang melarang warga negaranya berkunjung ke Bali. Bukan hanya ayahku, tapi seluruh masyarakat Bali yang notabene penduduknya bersandar pada sektor pariwisata. Bangkrut. Itu ujian yang sangat berat bagi keluargaku saat itu, terutama ayah. Tidak adanya penghasilan hampir membuat ayah putus asa.  Tapi, aku tahu ayahku adalah seorang wiraswasta terbaik, yang atas izin Allah beiau mulai membangun art shop-nya pelan pelan. Meski tampaknya nyaris tak ada harapan. Kemudian ibu memutuskan untuk memboyong aku dan adik tinggal di Jombang, menempati rumah yang sempat dibangun dan dihuni oleh beberapa saudara di sana. Sedangkan ayah tetap di Bali untuk mengurusi pekerjaannya.

Sejak kepindahan itu, perubahan terjadi di hidupku, Aku mulai mengenal Shalat, atau lebih tepatnya menyaksikan keponakan ibu sedang sholat. Lalu aku mulai bertanya kepada keponakan ibu itu tentang apa yang ia lakukan. Sedikit demi sedikit, aku belajar untuk shalat.Meski tak hafal bacaannya, aku berupaya membaca surat pendek apapun yang aku bisa. Dan pada akhirnya, aku benar- benar shalat. Walau masih bolong-bolong dan bacaan yang jauh dari kata sempurna.

Satu setengah tahun lamanya kami bertiga tinggal di Jombang. Ayah kerap mengunjungi minimal sebulan atau dua bulan sekali. Tiap minggu Ibu juga selalu mengajakku dan adik ke wartel untuk menelepon ayah, rasanya rindu sekali.

Setelah lulus Sekolah Dasar, aku kembali ke Bali. Ayah memasukkanku di salah satu sekolah Islam di Denpasar yang letaknya cukup jauh dari rumah. Ayah sudah sangat berubah, ia ingin aku bisa mengenal agamaku lebih baik walaupun shalatnya masih belum penuh. Aku jalani masa- masa di sekolah layaknya murid- murid lain dan hal yang membuatku bersyukur adalah aku mulai benar- benar diajarkan tentang Islam, Syahadat, Sholat, Puasa, dan berbagai kewajiban- kewajiban yang aku harus lakukan sebagai seorang muslim. Di sekolah, hampir semua pertanyaan yang selama ini menggelayuti pikiran dan benakku terjawab. Sampai pada saat aku mulai memutuskan mengenakan jilbab di sekolah ini, SMP Muhammadiyah 1 Denpasar. Sekolah dimana guru-gurunya memberi ilmu yang aku butuhkan, padahal dulunya aku sempat menolak untuk disekolahkan di sini. Selain karena alasan jauh, aku tidak suka letak gedung yang berdekatan dengan pemakaman warga Hindu. Alasan yang tidak logis memang.

Allah memang punya rencana terbaiknya. Di sekolah itulah aku menemukan hidayahku. Awalnya aku hanya sholat di sekolah, kemudian dengan berjalannya waktu alhamdulillah bisa mendirikan sholat di rumah. Dengan sedikit ilmu yang didapat di sekolah, aku mengajak ayah dan ibuku untuk sholat lima waktu tanpa bolong lagi seperti dulu. Susah? Sangat. Tidak mudah bagi seorang gadis ingusan empat belas tahun untuk mengajak dua orang dewasa melakukan hal yang selama ini tidak dilakukan. Namun entah kenapa terasa begitu damai ketika aku mulai menjelaskan apa hukum sholat fardhu beserta penjelasannya di Al-Qur’an. Sekali lagi, Allah benar- benar baik padaku dan pada keluargaku, secara bertahap ayah dan ibu mulai shalat. Dan akhirnya lima waktu pun dapat terpenuhi. La haula wa la quwwata illa billah.

Semenjak menggunakan jilbab di sekolah aku menargetkan diri menjadi lebih baik. Awalnya amat gerah dan tidak nyaman, tapi lama-kelamaan aku terbiasa. Perilakuku pun sedikit demi sedikit berubah. Aku mulai mengerti apa hukumnya bergaul dengan lawan jenis, aku menjadi sangat takut dan malu ketika bertemu laki-laki. Tidak berani duduk sebangku lagi, tidak berani menatap wajah mereka dan berusaha untuk menunduk ketika berpapasan dengan laki-laki. Padahal kata ibu, aku ini gadis tomboy sejak kecil yang kebanyakan temanku adalah laki- laki.

Aku pun tidak menayadari akan perubahan yang terjadi pada diriku. Lambat laun semua terlalui. Dan tepat saat kelas IX Sekolah Menengah Pertama dan setelah bertanya kepada guru- guru muslimah serta kakak- kakak mentor yang ada di sekolahku waktu itu, dengan berucap bismillah aku memutuskan untuk memakai jilbab dengan istiqomah. Aku benar- benar jatuh cinta dengan jilbabku, bahkan saat di rumah pun yang penghuninya adalah keluargaku sendiri, aku tetap ingin memakai jilbab. Aku benar- benar menyukai kebiasaan baruku. Terasa begitu berbeda. Sholatku alhamdulillah penuh tiada bolong, dan aku belajar Islam lebih mendalam. Aku merasakan Allah hadir di hati dan hidupku, kekosongan itu pun akhirnya bisa kutemukan. Aku merasakan nikmat ber-Islam karena-Nya.

Sejak saat itu,aku memilih untuk komitmen berjilbab. Ayah dan ibu tidak keberatan, bahkan ibu sangat bersemangat membelikanku baju-baju berlengan panjang serta jilbab-jilbab cantik. Namun ujian hidup akan selalu hadir untuk menguji sebuah komitmen kala hendak memasuki gerbang SMA. Dari SD aku sangat ingin bersekolah negeri dan itu tidak terpenuhi saat aku pindah ke Bali. Bagi murid pindahan di luar daerah Bali, begitu sulit untuk diterima di sekolah negeri. Dan itu menjadi salah satu alasan aku mengiyakan secara terpaksa untuk bersekolah di sekolah swasta islam. Aku berusaha keras mencapai cita- cita yang tertunda. Dalam hati aku berikrar, “Kali ini, aku percaya Allah pasti akan mengabulkan”.

Aku yakin Allah akan menyiapkan keajaiban-Nya, bahkan untuk siswa dengan akademik rata-rata sepertiku. Asal bukan dengan maksiat, aku siap berjuang apa saja. Selang beberapa bulan kemudian, tes untuk masuk SMA negeri pun kulalui. Targetku adalah SMA Negeri terbaik di Denpasar saat itu, yaitu SMAN 4 Denpasar. Sebagai cadangan aku juga mendaftar di SMA negeri lainnya. Ada suatu kejadian yang sedikitmenyesakkan saat mendaftar ke sekolah itu. Aku pergi bersama dua teman untuk bertanya kapan hasil ujian diumumkan, bukan pada bagian kesiswaan tapi pada satpam diselimuti rasa takut dan sedikit minder, kami tiga gadis berjilbab bertanya,

Aku: ” Permisi, Pak. Maaf mengganggu sebentar? Saya mau bertanya.”

Satpam: (melihatku dari atas ke bawah dengan wajah curiga, merasa terganggu) ”Ya, kenapa?”

Aku: ”Pengumuman penerimaan siswa baru di sekolah ini kapan keluarnya, Pak?”

Satpam: ” Mungkin dua minggu lagi. Kenapa?”

Aku: ”Tidak apa- apa, Pak. Terima kasih. Oh ya Pak, kira-kira di sini apakah diizinkan menggunakan kerudung?”

Satpam: ”Tidak bisa, dek. Di sini harus sama semua. Tidak ada yang dikecualikan.”

Aku: (Sambil menelan ludah, aku tertunduk lesu) ”Oh begitu, Pak. Dengar- dengar dulu boleh, Pak?”

Satpam: ”Tidak ada, dek.” (mulai terlihat kesal)

Aku: ”Oh tidak ada ya, Pak? Baiklah. terima kasih.”

Selepas itu, aku sedikit kecewa. Apakah memang tidak bisa? Padahal pernah ada seseorang yang mengatakan kepadaku kalau di SMA itu bisa menggunakan jilbab. Dan itulah mengapa aku memilih sekolah ini sebagai cadangan. Setidaknya aku berharap, masih punya kesempatan.

Beberapa bulan kemudian, pengumuman ujian keluar di koran daerah. Atas izin Allah dan bagiku ini sebuah keajaiban. Bagaimana tidak? Aku diterima di kedua sekolah negeri tersebut. Allahu Akbar! Aku tersungkur dalam sujud syukur. Sama sekali tidak menduga. Karena setauhuku untuk masuk ke sekolah tersebut perlu mengalahkan banyak rival berat dari sekolah-sekolah lain.

Diterima di dua sekolah membuat aku bingung menentukan pilihan. Lalu aku putuskan untuk daftar ulang di sekolah negeri terbaik yang dulu sempat aku idam-idamkan. Tanpa ba-bi-bu, aku diantar oleh ayah untuk daftar ulang. Semua kebutuhan akademik secara finansial sudah dipenuhi oleh ayah. Dan aku sudah menerima seragam baru. Tapi saat aku bertanya ke bagian sekolah apa aku bisa menggunakan jilbab? Nihil. Mereka juga mengatakan tidak bisa. Sama seperti sekolah negeri yang pernah aku datangi sebelumnya. Sedih, kesal, marah bercampur aduk.

Aku sempat mengatakan keinginanku pada kakak- kakak Pelajar Islam Indonesia (PII) wilayah Denpasar. Dan mereka sangat mendukung baik niatanku dan berupaya akan membantuku. Lalu mereka pun menemaniku hingga adanya keputusan. Mereka adalah kakak- kakak yang sangat baik. Mereka menguatkanku agar aku tidak berubah pikiran. Aku sangat ingin memakai jilbab di sekolah negeri. Apa salahnya memakai jilbab? Bukankah aku tidak mengganggu? Mengapa aku dibilang calon istri teroris karena berbeda dengan kebanyakan remaja muslim putri lainnya yang bisa saja tidak memakai jilbab di sekolahan. Kenapa aku dicap aneh hanya karena minta pakai jilbab?

Orang tuaku mendukung apapun keputusanku, meski sebenarnya aku tak tega melihat pengorbanan mereka yang begitu banyak untukku. Aku shalat istikharah. Setelah shalat, aku bermimpi. Mimpi itu begitu jelas dan mengisyaratkan untuk memilih SMA yang aku jadikan cadangan, tak lain sekolah yang mengingatkanku pada Bapak satpam itu.

Waktu itu, kakak-kakak PII berharap agar aku tetap memilih sekolah favorit yang aku tinggalkan itu. Mereka akan membelaku bahkan bila perlu sampai ke jalur hukum. Aku menyerah ketika masalah itu hampir mencicipi meja hijau. Aku takut, sekali lagi siapa aku? Aku bukan siapa- siapa? Aku hanyalah seorang manusia biasa yang berharap mempunyai kehidupan yang normal-normal saja dan tidak merepotkan kedua orang tua atau siapapun, apalagi kami adalah keluarga yang awam hukum dan tidak berniat sedikitpun berurusan dengan hal ini. Tidak, aku tidak tega melihat orang tuaku yang sudah aku kecewakan dengan tidak jadi bersekolah di sekolah negeri favorit tersebut. Padahal waktu itu, segala biaya sudah dilunasi dan aku tinggal menerima jas almamater sekolah itu. Sempat terbersit pikiran melepas jilbabku dan bisa saja aku memakainya saat tidak di sekolah. Tapi bukankah itu sama saja bohong? Membohongi diri sendiri dan komitmenku. Saat malam hari aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang, dan pada suatu malam tiba- tiba aku benar-benar gelisah. Oke, mungkin besok aku memutuskan untuk lepas jilbab hanya untuk diterima di sekolah negeri, tapi bagaimana jika besok Allah memanggilku menghadap-Nya? Rabbi, apa yang bisa aku katakan pada-Mu? Aku sudah sangat paham bagaimana hukum memakai jilbab dan Kau pun telah menerangkannya begitu gamblang di kitab-Mu. Apakah hanya gara- gara dunia aku akan memilih keputusan ini. Air mataku pun tidak bisa berhenti sampai hampir pagi. Jujur, aku sudah sangat ingin menggunakan jilbab ini sepanjang hidup. Allah sangat sayang padaku, karena tidak setiap wanita diberinya nikmat yang satu ini. Hanya hamba-hamba-Nya yang menginginkannya dan yang disayang oleh-Nya. Dan aku adalah salah satu yang beruntung, dan kenapa aku begitu bodoh berpikiran untuk melepaskan nikmat ini. Sekali lagi, aku menangis. Dan aku pun berusaha untuk tetap teguh terhadap komitmenku. Jujur, jika Allah benar- benar memanggilku esok hari dan saat itu juga aku melepaskan jilbab hanya demi sekolah negeri, aku belum menemukan jawaban pas ketika nanti Ia menanyakannya padaku kenapa aku memilih membuka auratku kembali.

Di satu sisi, kakak- kakak PII pun tetap kekeuh untuk mengajakku berjuang, bertahan di sekolah yang aku idamkan. Tuhan, bagaimana ini aku takut, aku takut membuat orang tuaku menjadi bermasalah dengan hukum karenaku. Aku adalah tipe orang yang sebisa mungkin meminimalisir masalah. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk bersekolah di SMA pilihan kedua. Aku meminta maaf kepada kakak- kakak PII yang sudah begitu baik menemani dan menyemangati saat aku benar- benar merasa runtuh.

Kepala sekolah SMA yang kupilih ini, adalah pemeluk Hindu yang memiliki rasa toleransi yang tinggi. Atas bantuan kakak-kakak PII yang juga alumni SMA itu, aku berhasil masuk plus dengan jilbabku. Alhamdulillah. Begini percakapanku dengan Bapak Kepala Sekolah yang murah hati tersebut.

Aku: ”Pak, apa saya diijinkan untuk menggunakan kerudung di sekolah ini? “

Pak Kepsek: “ Silakan saja, Nak. Bapak tidak melarang kalau misalnya itu memang kewajiban anak sebagai pemeluk agama Islam, hanya saja mungkin nanti akan ada sedikit hambatan dari para guru dan juga teman- teman anak. Itu konsekuensinya. Bagaimana, Nak? Apakah kuat?”

Aku: “ Insya Allah saya usahakan untuk kuat, Pak. Terima kasih.”

Aku pun meyerahkan surat bermaterai sebagai bukti hitam di atas putih atas persetujuan Kepala Sekolah untuk menggunakan jilbab. Beberapa minggu kemudian, Masa Orientasi Siswa pun diadakan. Dengan menggunakan seragam olahraga dan jilbab aku datang ke sekolah itu. Banyak sekali mata yang memperhatikanku, termasuk Bapak satpam yang dulu pernah bercakap denganku. Aku tersenyum padanya, agak lama beliau terdiam sebelum membalas senyumku. Sejak itu, Bapak satpam sangat baik padaku.

Saat MOS berlangsung tiba- tiba ada salah satu guru yang mendekati, sambil menyapaku beliau berkata,

Guru: “Kamu beneran ingin pakai jilbab di sekolah ini? Jangan gegabah mengambil keputusan, Bapak tidak ingin kamu sama seperti dua siswi yang dulu berjilbab terus pacaran dan melepas jilbabnya. Itu sangat memalukan. Bukan hanya memalukan Bapak tapi juga agama. Kamu jangan main-main di sini.”

Aku: (tersentak) ”Iya Pak, insya Allah saya sangat ingin berjilbab dan bisa bersekolah di sini, saya berharap bisa istiqomah.” (itu janjiku)

Guru: ”Baguslah kalau begitu, lihat saja nanti kamu bertahan sampai berapa lama. Oh ya, kalau misalnya ada apa- apa di sini atau ada yang mengganggumu kamu bisa bilang ke Bapak.”

Aku: “Baik, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya.”

Guru itu adalah Pak Kamim, salah satu guru muslim di SMA-ku, beliau mengajar bahasa Perancis dan hingga lulus pun beliau adalah salah satu guru yang sangat baik padaku. Kemudian para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku masuk  kelompok Majapahit. Sebenarnya, saat melihat pengumuman aku juga menghitung seberapa banyak teman-teman muslimku di sekolah ini. Meski tidak bisa memastikan 100 %, setidaknya terlihat berbeda dari namanya.

Saat istirahat sewaktu MOS, ada salah satu temen kelompok yang mengajakku ngobrol. Dia juga muslim yang bersekolah di salah satu sekolah Islam di Denpasar, tapi bukan di sekolahku.

Dia: ”Kamu kenapa milih pakai jilbab, kan kamu tahu risikonya. Tidak ada yang berminat untuk menjadi temanmu. Takut kena aliran sesat dan jadi teroris. Lebih baik lepas saja jilbabmu, jujur aku kasihan melihatmu sendirian seperti ini. (dengan nada meremehkan)”

Aku: ”Aku lebih kasihan padamu, kamu dari sekolah Islam tapi kamu berpura- pura tidak paham apa hukumnya menggunakan jilbab bagi seorang wanita. Kamu sebagai laki- laki malah menyuruhku melepaskannya hanya karena kasihan aku tidak punya teman di sini. Seharusnya kamu bisa melindungi dan mendukung tapi kamu malah meprovokatoriku melepas jilbab. Kamu rugi sekolah di tempat yang ilmu agamanya lebih, tapi tidak digunakan. Aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Suatu saat nanti teman- temanku di sini akan banyak. Mereka pasti akan berteman denganku, karena aku bukan teroris atau penganut aliran sesat. Paham?”

Kemudian aku pun meninggalkannya yang terdiam. Ternyata sampai lulus pun ia tidak berubah. Selalu menggangguku. Dia muslim tapi dia lebih keterlaluan daripada teman-temanku yang beda agama. Astagfirullah, semoga hidayah Allah segera datang padanya. Amin.

Hari-hari efektif akademik pun dimulai. Teman-teman menyambutku dengan sambutan yang bervariasi. Ada yang ramah, tetap baik dan tidak membeda-bedakan agama. Bahkan aku mempunyai sahabat yang begitu baik di sini. Tapi, setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan dan begitu pula sebaliknya. Ada beberapa guru yang menyindir, bahkan ada juga yang mendiskriminasikanku. Bayangkan, saat salah seorang guru memberi soal untuk dijawab di papan tulis, aku tidak pernah dipilihnya meski selalu mengacungkan tangan. Dan setelah pelajaran itu selesai, air mataku menetes.

Saat keluar kelas pun beberapa teman dan kakak kelas tidak begitu senang terhadapku. Aku sudah sering mendengar panggilan ‘Pocong’, ‘Jiraiya’ (salah satu karakter di film animasi Naruto), ‘Ninja Hatori’ (Salah satu tokoh kartun jepang), ‘Hantu’, bahkan ‘Teroris’. Sempat juga saat aku berjalan menuju kantin, hampir saja aku terkena lemparan batu dari kakak kelas yang entah sengaja atau tidak diarahkan kepadaku. Lagi- lagi aku begitu cengeng, air mataku menetes lagi. Ya Rabb, maafkan aku, kuatkan ya Allah. Aku takut, sangat takut. Rabb, aku salah apa dengan mereka? Bahkan aku sangat menghormatinya walaupun aku tidak pernah mendengar panggilan dengan sebutan namaku. Karena itu, aku sangat jarang keluar kelas saat istirahat, bahkan untuk ke kamar mandi. Saat itu ada teman kelasku yang bilang, ”Jangan dihiraukan ya, Put”. Mendengarnya, aku kembali tersenyum sembari mengusap air mata yang sempat jatuh dari ujung kedua mataku.

Pernah juga saat pelajaran Kewarganegaraan (KWN), guruku mengajar tentang topik kedaulatan negara. Beliau pun bertanya pada murid sekelas. ”Dulu sebelum negara kita menjadi negara Republik, negara kita adalah negara dengan serikat Islam. Apa kalian setuju dengan negara serikat Islam?”. Terang saja teman- teman bersorak “TIDAK”. Kemudian guru itu bertanya padaku dengan pertanyaan yang sama. Ya Allah, pertanyaan itu menyudutkanku, memicu hubungan yang tidak baik untuk hubunganku dengan teman-teman. Kawan, aku tahu kita terdiri dari banyak suku bangsa dan agama, aku mengerti itu. Aku bukan orang yang hidup di Bali setahun dua tahun, tapi bertahun-tahun. Bahkan dari kecil kebanyakan temanku beragama Hindu. Tapi kami bermain. Kami tidak pernah saling menghina dan berselisih karena agama. Kalian temanku, dan aku juga temanmu. Sekuat apapun aku bertahan untuk sendiri, aku takkan bisa. Aku tidak pernah membeda-bedakan sedikit pun. Aku hanya berusaha untuk menjalankan apa yang diajarkan di agamaku, bahwa kewajiban kita adalah berhubungan baik dengan seluruh manusia. Itu saja.

Hari- hari pun berlalu, aku berusaha tegar, Orang tuaku menguatkan serta memberi semangat. Kakak-kakak PII juga tetap intens menanyakan kabar dan keadaanku di sekolah. Aku menjalani semuanya sambil berusaha sabar dan ikhlas. Aku berpikir suatu saat nanti pasti mereka akan bosan dan tidak akan menghinaku lagi.

Setelah menginjak tahun terakhir SMA, kakak kelas yang kerap menggangguku sudah lulus. Jadi aku bisa sedikit bernafas lega. Mungkin seperti burung yang lepas dari sangkarnya. Aku mulai lebih mengaktifkan diri dibanding dua tahun sebelumnya. Aku bergabung di ekstrakurikuler PMR, ESS (English Club), KIR, KRR dan Rohis. Teman- temanku saat ini adalah teman seangkatan yang sudah mengenalku, maka semuanya terasa lebih mudah. Masa-masa suram pun sedikit berlalu seiring dengan waktu dan kesabaran. Alhamdulillah. Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku bukanlah  siswi yang ingin cari perhatian dengan menggunakan jilbab seorang diri di seantero sekolah yang bukan berlatar belakang agama. Bukan. Dari awal aku sudah katakan, kalau aku bukanlah orang yang suka mencari masalah, kesulitan dan hal-hal pelik lainnya atau apa pun yang membuat orang benci padaku. Aku hanya ingin bertahan dengan jilbabku. Jilbab bukanlah halangan bagiku untuk bersekolah di sekolah negeri yang aku inginkan sejak dulu. Jilbab bukan halangan bagiku untuk menyumbangkan piala ke sekolah sebagai sumbangsih prestasi. Dulu sewaktu masih menjadi murid baru, tidak ada yang bersedia menjawab saat aku sapa, baik guru maupun teman. Tapi saat ini, guru- guru pun sangat mengenal dan menyayangiku, begitu pula temanku. Karena sekali lagi aku bukan teroris dan penganut aliran sesat yang selama ini mereka lontarkan padaku karena jilbabku. Dulunya pihak sekolah sempat malu karena keberadaan murid berjilbab seperti aku, tapi syukurlah beberapa kali aku direkomendasikan untuk mengikuti berbagai lomba mewakili sekolah. Ya, tahun 2007 hingga 2010 yang begitu asam dan manis.

Tidak terasa 3 tahun itu  telah terlewati. Sujud syukurku untuk-Mu duhai Robbi. Semuanya berubah, berubah ke arah yang jauh, jauh, dan jauh lebih baik. Yang tidak pernah aku sangka-sangka sebelumnya. Yang membuatku ingin lebih lebih dan lebih dekat pada-Mu. Ini adalah salah satu puzzle indah yang melengkapi sejarah hidupku di bumi-Mu.

Terima kasih buat orang tua yang selalu menguatkan dan mendukungku. Alhamdulillah saat ini ayah dan ibu bisa shalat penuh dan tepat waktu, insya Allah kami bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. (Mama yang sudah bisa mengaji, Ayah yang sering sholat di mushalla dan bisa menjadi ayah serta imam terbaik, adik yang shalih, proud of you all, mohon doakan kakak di sini), kakak- kakak Pelajar Islam Indonesia wilayah Denpasar  (Bang Ayik, Kak Anam, Kak Adnan, Kak Bayu, Kak Angga, Mbak Hilda (yang rela sering menelepon Putri agar Putri bisa kuat dan bertahan), Nanik, Mbak Shanty, dan semuanya) yang tidak akan ku lupakan atas uluran bantuannya, bapak kepsek awal (Pak Raka), dan Bapak Kepala Sekplah yang baru (Pak Sunarta), ibu dan bapak guru yang sangat menyayangiku (akhirnya) terutama Pak Kamim, Pak Syam, Pak Ihsan(Alm), Pak Setiyono (Alm.), bu Sri, Bu Rai Kartini, guru- guru olahraga yang mentoleransiku untuk tidak mengikuti pelajaran berenang tapi aku tetap hadir, dan semua guru di SMAN 2 DPS. Teman- temanku yang sayang dan saling menghargai tak peduli apapun yang menjadi beda, kita adalah sahabat (Frinda, Soniya, Ecik, Sundari, dan Vivin). Dan juga teman-teman Rismanda (Remaja Islam SMAN 2) semoga makin maju dan makin banyak peminatnya, dan semoga saja masih diizinkan untuk tetap melanjutkan perjuangan jilbaber di sekolah negeri di pulau minoritas. Teman- teman IPA 2 yang sangat perhatian padaku, terima kasih atas pengertiannya. Sekali lagi terima kasih untuk semua pihak yang membantu baik secara langsung maupun lewat doa. Semoga kebaikan selalu bersama kita semua. Amiin ya Rabb.

Dan semoga jilbab ini tentang menjadi mahkota untukku, dan untuk kalian semua, wahai wanita yang sangat Allah sayang

Jilbab bukanlah kendala, hambatan atau kemustahilan untuk mencapai cita- cita

Jilbab bukanlah larangan untuk bahagia sebagai seorang wanita yang dianugerahi hati nurani untuk mempesona

Pesonamu memang indah, tapi tujukanlah untuk dan karenaAllah

Siapapun kamu, di belahan bumi manapun kamu berada saat ini, ketika kamu tahu kamu adalah seorang muslim, ingatlah perintah Allah untuk wanita agar menutupkan kain kudung di dada, karena hal yang demikian agar kamu dapat dikenali sehingga tiada yang akan mengganggumu.Percayalah, Dia akan selalu menyambutmu, tak peduli sesuram apapun diri dan masa lalu. Tak pernah pilih kasih.

Jilbab bukanlah vonis iman kita, tapi jalan bagi kita dan siapa pun yang merindui surga-Nya.

 Jangan pernah takut kehilangan cantik dengan berjilbab, karena jilbab tidak menghilangkan cantik tapi menyimpannya untuk seseorang yang terbaik nantinya.

Jangan berjilbab karena terpaksa atau karena apa dan siapa, sekali lagi cobalah untuk mengenakannya karena Dia, ya Dia yang selalu menjagamu sekalipun kamu tak pernah memintanya.

 Kamu bisa, kamu pasti bisa, jangan takut akan anggapan orang lain. Kebahagianmu terletak di sini (qolbu) bukan di kata-kata mereka.

 Raih jilbab, raih keajaiban dan beranilah untuk memutuskan. 🙂

Hanya ingin berbagi, semoga bermanfaat dan semoga Allah semakin menyayangiku dan kalian semua.

Bumi Allah.

Malang, 15 Februari 2013

teman2 ria

teman ria